Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Infrastruktur Mangkrak Biang Harga Pangan Mahal

Written By Unknown on Jumat, 03 Mei 2013 | 09.35

Sejumlah kendaraan melewati jalan longsor yang belum rampung diperbaiki saat hari mulai gelap di Desa Rawa Lumbu, Kecamatan Songgom, Brebes, Jawa Tengah, Senin (22/8). Desa Rawa Lumbu merupakan jalur tengah yang biasa di lewati para pemudik untuk menuju jalur selatan. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Infrastruktur Lamban Biang Harga Pangan Mahal

JAKARTA - Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang infrastruktur Rachmat Gobel menilai lambannya perkembangan infrastruktur menjadi penyebab mahalnya harga pangan. Gobel mencontohkan harga jeruk lokal yang lebih mahal ketimbang jeruk impor. "Persoalannya ada di infrastruktur," katanya saat pertemuan Kadin Indonesia dan Forum Pemimpin Redaksi di Jakarta, Kamis, 2 Mei 2013.

Infrastruktur yang maju menjadi kunci efisiensi industri pangan. Pembangunan infrastruktur yang dimaksud Gobel di antaranya akses jalan tol hingga ketersedian listrik. Saat ini kondisi infrastruktur dinilai mencemaskan. Jika persoalan infrastruktur tidak kunjung diselesaikan, lanjut Gobel, industri pertanian akan terpuruk. "Hasil bumi dan laut kita, kalau tidak cepat dikelola, malah disikat negara lain," ujarnya.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto menilai kondisi perekonomian Amerika Serikat dan Eropa yang terpuruk merupakan momentum Indonesia menggenjot produktivitas infrastruktur. salah satu caranya, "Mendirikan bank infrastruktur," ucapnya.

Pembangunan infrastruktur membutuhkan sumber pembiayaan bersifat jangka panjang dan bunga rendah. Syarat ini bisa dipenuhi lewat bank khusus infrastruktur. "Seperti dulu ada Bapindo, khusus memberikan pembiayaan proyek yang sifatnya development."

Suryo menegaskan pendirian bank infrastruktur menjadi kewajiban pemerintah. Namun karena pemerintah dinilai banyak persoalan swasta dapat mengambil alih peran itu. "Swasta siap mendukung," ujarnya.

Kendati dikelola swasta, Suryo menambahkan, bukan berarti bunga kredit nantinya tidak terkendali. "Bunga harus rendah dan jangka panjang."

MARIA YUNIAR


09.35 | 0 komentar | Read More

Pemerintah Waspadai Penurunan Impor Barang Modal

Teknisi melakukan pemeriksaan komponen mesin yang di rakit oleh para siswa SMKN 1 Jakarta, kamis (05/01) Dengan kapasitas mesin 1500 CC Twin Cam 16 valve, dengan bahan logam tertentu yang masih di impor dari luar dibuat mampu bersaing dengan produk mesin mobil ternama. TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan pemerintah menelusuri penyebab turunnya impor barang modal yang terjadi pada kuartal pertama tahun ini. Pengurangan dinilai memburuk jika diikuti anjloknya produksi. "Akan mempengarahui kinerja perekonomian," katanya di Jakarta, Kamis, 2 Mei 2013.

Sebaliknya, jika produksi tetap pengurangan impor barang modal dinilai akibat meningkatnya suplai bahan baku lokal. "Kalau tergantikan barang modal lokal itu bagus."

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan impor barang modal mencapai US$ 7,7 miliar selama kuartal pertama tahun ini. Jumlah itu menurun 15,8 persen ketimbang impor periode yang sama tahun lalu.

Tren penurunan impor barang modal terlihat sejak November tahun lalu. Catatan BPS realisasi impor barang modal mencapai US$ 3,3 miliar pada Oktober 2012, lalu turun menjadi US$ 3,26 miliar pada November, dan anjlok lagi menjadi US$ 3,01 miliar pada Desember.

Memasuki tahun baru, laju penurunan masih berlangsung. Tercatat pada akhir Januari lalu impor barang modal itu mencapai US$ 2,63 miliar dan masih turun lagi menjadi US$ 2,56 miliar pada Februari lalu.

Berbeda dengan Bayu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi tidak merisaukannya. Menurut dia penurunan impor barang modal merupakan fenomena siklus bisnis. "Barang modal itu kan mesin-mesin, tahan lama, tahun lalu kita sudah beli banyak, ya, ngapain beli lagi," katanya saat dihubungi.

Penurunan itu dinilai tidak mempengaruhi kegiatan produksi. Menurut Sofjan impor bahan baku atau penolang yang mencatatkan kenaikan 5,2 persen atau sebesar US$ 34,9 miliar menjadi indikator yang tepat menggambarkan kondisi kegiatan produksi. "Jadi produksi tidak terganggu."

PINGIT ARIA


09.35 | 0 komentar | Read More

Dana Kompensasi Kenaikan BBM Rawan Dipolitisasi

TEMPO.CO, Jakarta - Rencana pemerintah memberikan dana kompensasi berupa Bantuan Langsung Tunai atas kenaikan harga BBM bersubsidi menuai kecurigaan kalangan politikus. Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Dolfie O.F. Palit menilai pemerintah menggunakan kedok pengentasan kemiskinan untuk menutupi kesalahannya. 

Penanganan kemiskinan tidak harus menunggu kenaikan harga BBM bersubsidi. "Itu adalah tugas pemerintah setiap tahun," katanya kepada Tempo, Kamis, 2 Mei 2013.

Politikus PDI Perjuangan itu khawatir pengucuran BLT digunakan untuk kepentingan politik yaitu menggalang dukungan masyarakat menjelang pemilihan umum legislatif dan presiden tahun depan.

Alih-alih menaikkan harga BBM, Dolfie meminta pemerintah menghemat anggaran belanja. Setiap tahun sekitar Rp 50 triliun anggaran belanja negara tidak terserap. Jumlah ini lebih kecil ketimbang subsidi yang bisa dihemat pemerintah dari kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 30 triliun. Penghematan inilah yang akan diusulkan pemerintah untuk anggaran BLT.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memastikan pemerintah memberikan BLT kepada masyarakat miskin yang terkena dampak kenaikan BBM. "Ada kompensasi tunai, dan kebijakan itu satu paket dengan penyesuaian harga BBM," katanya.

Besaran yang dikucurkan disesuaikan dengan kenaikan harga BBM. Semakin tinggi kenaikannya, kompensasi yang diberikan akan semakin besar. Ketua Umum Partai Amanah Nasional itu beralasan, kenaikan harga BBM menggerus daya beli masyarakat.

Usulan dana kompensasi akan diajukan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah Perubahan. Menurut Hatta, usulan akan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat, pertengahan bulan ini. "Paling lambat pada minggu kedua Mei akan diserahkan kepada DPR," katanya.

SUNDARI


09.35 | 0 komentar | Read More

Mandiri Tunas Finance Kembali Terbitkan Obligasi

Written By Unknown on Kamis, 02 Mei 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Jakarta - PT Mandiri Tunas Finance (MTF) menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan total nilai sebesar Rp 1,25 triliun. Direktur Utama PT Mandiri Tunas Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, mengatakan penerbitan obligasi ini bertujuan mendapatkan modal perseroan yang digunakan untuk mengembangkan bisnis pembiayaan perusahaan tersebut.

"MTF akan membuka cabang baru guna mendukung target pembiayaan baru 2013 sebesar Rp 12 triliun," kata dia saat paparan publik penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I di Hotel Gran Melia. Jakarta, Rabu, 1 Mei 2013.

MTF merilis obligasi tahap I senilai Rp 500 miliar dalam dua seri dengan masa penawaran awal 1 Mei 2013 - 16 Mei 2013. Untuk obligasi seri A dengan jangka waktu 36 bulan dengan indikasi kisaran kupon antara 7,35 persen - 8,15 persen. Obligasi seri B dengan jangka waktu 48 bulan dengan kisaran kupon 7,4 persen - 8,2 persen. Kupon yang nanti disepakati dibayarkan setiap 3 bulan.

Menurut Direktur Mandiri Sekuritas, Dadang Suryanto, kisaran kupon tersebut sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). "Jadi kupon di kisaran itu tidak jauh berbeda dengan kupon Obligasi Astra Finance, tapi bagi kita yang penting kupon finalnya. Kita lihat hasil penawaran 16 Mei," ucapnya.

Sejak pertengahan tahun lalu, MTF fokus pada pembiayaan mobil baru yang menurut perseroan hal ini yang menyebabkan pertumbuhan pembiayaan yang baik. Direktur MTF, Harjanto Tjitohardjojo, mengatakan fokus pembiayaan mobil baru manfaatnya untuk mengembangkan market share perseroan. "Pembiayaan mobil baru sebesar 75 persen dari total pembiayaan kami, sisanya pembiayaan mobil bekas, motor dan alat berat," ucapnya.

Merek mobil yang mendominasi pembiayaan MTF yaitu Toyota, Honda, Daihatsu, dan Mitsubishi. "Per bulan kita 1.000 unit atau 55 persen dari total pembiayaan mobil baru," kata Harjanto.

Lebih lanjut Harjanto menjelaskan, sebagian besar pembiayaan MTF atau 70 persen nilainya berasal dari Bank Mandiri. Sisanya 30 persen pembiayaan dari bilateral loan bank, maupun bonds dari pasar modal. "Bonds sebagai diversifikasi sumber dana."

Selama tahun 2012, total pembiayaan baru sebesar Rp 8,35 triliun, meningkat 16,9 persen dari tahun sebelumnya. Laba bersih di tahun lalu melonjak 77,2 persen dari Rp 65,77 miliar pada 2011 menjadi Rp 116,54 miliar. Untuk rasio kredit macet di tahun lalu sebesar 0,4 persen.

LINDA TRIANITA


09.35 | 0 komentar | Read More

ILO Minta Pengusaha Mengupah Buruh Lebih Layak

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Urusan Perburuhan Perserikatan Bangsa Bangsa (International Labour Organization/ILO) meminta pengusaha membayar upah buruh lebih layak di Indonesia. Program Officer Hubungan Industrial ILO Indonesia Lusiani Julia mengatakan pemberian upah tidak sekadar mempertimbangkan kemampuan pengusaha. "Yang utama mempertimbangkan kebutuhan buruh dan keluarganya, baru kemudian kemampuan pengusaha," katanya ketika dihubungi, Rabu, 1 Mei 2013.

Lusiana menambahkan ILO belum menerbitkan kebijakan yang mewajibkan pengusaha menggaji buruh mengacu pada persentase rasio tertentu terhadap penjualan. Formula tersebut sulit dibuat karena setiap negara memiliki kebijakan dan kondisi yang berbeda-beda. "Prinsipnya, bayarlah buruh dengan layak," ujarnya.

Pada peringatan hari buruh sedunia hari ini, asosiasi buruh mengklaim masih dibayar belum layak. Menurut mereka upah buruh di Indonesia merupakan terendah nomor dua di ASEAN setelah Vietnam. Adapun asosiasi pengusaha juga tak mau kalah. Mereka mengklaim produktivitas buruh nasional masih sangat rendah yakni di urutan ke-6 dari 10 negara di ASEAN.

Berdasarkan data yang dikompilasi ILO, rata-rata upah buruh per Februari 2013 di Jakarta hanya sebesar Rp 27 - 73 ribu per hari atau setara dengan US$ 2,85 – 7,55 per hari. Angka itu lebih rendah dari upah di Cina rata-rata US$ 4,6 -7,9 per hari, Thailand US$ 7,3 – 10,4 per hari, Malaysia US$ 8,5 – 9,6 per hari, Filipina US$ 10,2 – 11,1 per hari, Taiwan US$ 20 per hari, Hong Kong US$ 28,8 per hari, Korea Selatan US$ 35,7 per hari.

Meski demikian upah buruh Indonesia lebih tinggi ketimbang Vietnam US$ 2,22 -3,17 per hari, Kamboja US$ 2,03 per hari, dan Myanmar US$ 0,5 per hari.

ABDUL MALIK


09.35 | 0 komentar | Read More

Harga BBM Naik Penduduk Miskin Tambah 1,5 Persen  

Aktivitas warga di pemukiman kumuh di tepi rel Petamburan, Jakarta, (2/4). Rencana pemberian bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah, tidak menjadikan kehidupan warga miskin menjadi lebih baik. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta -- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Ahmad Erani Yustika memprediksi kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 30 persen mendorong inflasi ke level 9 persen dan mengerek jumlah penduduk miskin. "Tanpa kompensasi, angka kemiskinan minimal naik 1,5 persen," katanya kepada Tempo, Rabu, 1 Mei 2013.

Mengacu perhitungan pemerintah akhir tahun lalu, kata Erani, jumlah penduduk miskin mencapai 11,6 persen dari total penduduk. Jika penduduk miskin naik 1,5 persen maka jumlah penduduk miskin mencapai 13-13,2 persen dari total penduduk.

Jumlah penduduk miskin makin meroket jika standar kemiskinan dinaikkan. Misalnya, acuan pendapatan sebagai batas disebut miskin atau tidak dinaikkan menjadi US$ 1,25 - US$ 1,5 sehari atau Rp 400 ribu sebulan. Saat ini pemerintah menggunakan acuan pendapatan Rp 270 ribu per bulan sebagai batas disebut penduduk miskin.

Jika acuan baru dipakai jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai 35-40 persen dari total penduduk. Adapun akibat kenaikan harga BBM, penduduk miskin bisa bertambah 2,5 - 4 persen menjadi 37,5 - 44 persen dari total penduduk.

Erani menilai bantuan langsung tunai dapat meredam kenaikan jumlah penduduk miskin. "Tapi untuk jangka panjang tidak banyak membantu," ujarnya. Menurut dia peluang kenaikan BBM mengecil karena Presiden memilih menunggu sikap DPR membahas dana kompenasi dalam APBN Perubahan. "Kemungkinannya semakin kecil apalagi kalau harga minyak turun."

MARTHA THERTINA


09.35 | 0 komentar | Read More

Pertamina Klaim Sukses Pangkas Antrean BBM

Written By Unknown on Rabu, 01 Mei 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Surabaya - Asisten Manager External Relations Pertamina Operation Region V, Eviyanti Rofraida, mengatakan Pertamina telah berhasil mengurai antrean pembeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jawa Timur. "Keberhasilan ini karena sejak akhir pekan lalu kami terus menambah penyaluran pasokan solar sehingga stok di di SPBU pada level aman," katanya pada Selasa, 30 April 2013.

Ia mengatakan Pertamina telah meningkatkan pasokan solar subsidi sebesar tiga persen sampai 80 persen diatas penyaluran harian normal sesuai dengan kondisi masing-masing kabupaten/kota. "Dan pantauan kami antrean saat ini, pembeli sudah normal," ujar dia.

Lebih lanjut ia mengatakan penyaluran solar normalnya sebanyak 5.500 kiloliter (100 persen) per hari. Penambahan penyaluran dimulai rinciannya sebanyak 5.640 kiloliter (103 persen) pada 23 April, bertambah sebanyak 6.656 kiloliter (121 persen) pada 24 April. Kemudian sebanyak 9.363 kiloliter (170 persen) pada 25 April, pada 26 April menjadi sebanyak 9.736 kiloliter (177 persen) dan sebanyak 9.856 kiloliter (179 persen) pada 27 April. Sedangkan pada 28 April sebanyak 8.040 kiloliter (146 persen), sebanyak 7.861 kiloliter (143 persen) pada 29 April dan sebanyak 7.672 kiloliter (139 persen) pada 30 April.

Agar stok tetap aman, Evi mengatakan Pertamina telah mengerahkan seluruh armada yang ada untuk melakukan alih pasokan ke terminal BBM terdekat, menambah jam pelayanan hingga 24 jam dan membuka pelayanan saat hari libur. "Masyarakat tidak panik sehingga melakukan aksi borong," kata Evi menanggapi rencana kenaikan BBM.

Untuk Jawa Timur, kuota solar bersubsidi yang harus disalurkan Pertamina pada 2013 ini sebanyak 1.91 juta kilo liter, lebih rendah 8,3 persen dari realisasi 2012 lalu sebanyak 2.08 juta liter.

DINI MAWUNTYAS

Topik Terhangat:
Harga BBM | Susno Duadji | Gaya Sosialita | Ustad Jefry | Caleg

Berita Terpopuler:
Pengedar Sabu itu Ternyata Perwira Berprestasi
VIDEO Susno Duadji: Saya Tak Akan Lari
Jaksa Waspadai Pengawalan Bersenjata Susno 
Kolonel ASB Memakai Sabu Sejak 2004 
SBY: Harga BBM Naik kalau Ada Dana Kompensasi


09.35 | 0 komentar | Read More

Hari Buruh, Bandara Diblokir, Penumpang Bisa Telat

Karyawan Aerofood Aerowisata Catering Services, penyedia jasa layangan catering bagi maskapai penerbangan melakukan aksi mogok kerja menjelang May Day di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, (30/4). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai Penerbangan AirAsia meminta penumpang yang memiliki jadwal penerbangan besok, 1 Mei 2013, tiba di Bandara Soekarno-Hatta lebih pagi. Manajer Humas Air Asia, Audrey Progastama, mengatakan, permintaan itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya pemblokiran akses jalan yang dilakukan massa buruh dalam memperingati Hari Buruh Sedunia besok, yang biasa disebut May day. 

"Sore tadi kami sudah menginformasikan kepada penumpang untuk datang lebih pagi," kata Audrey saat dihubungi Tempo, Selasa, 30 April 2013.

Menurut Audrey, permintaan kepada penumpang untuk datang lebih pagi juga ditujukan kepada penumpang yang memiliki jadwal penerbangan siang hari. "Semua penumpang, tidak hanya yang memiliki jadwal penerbangan pagi. Penumpang dengan penerbangan siang dan sore juga kami imbau," ujarnya.

Namun, Audrey mengaku tidak akan mengalami kerugian akibat adanya aksi buruh dengan melakukan pemblokiran bandara. Menurutnya, jadwal penerbangan tetap berjalan seperti biasa. "Kerugian tidak ada, karena lebih ke penumpang saja. Beda waktu akses jalan tertutup karena banjir, harus memberikan kompensasi kepada penumpang yang terlambat sampai bandara," ujarnya.

Sementara, Maskapai penerbangan Sriwijaya Air mengaku tidak menghawatirkan adanya aksi buruh dalam memperingati May day besok. "Jadwal penerbangan seperti biasa, tidak ada antisipasi yang signifikan," kata juru bicara Sriwijaya, Agus Sujono.

Dia yakin aksi unjuk rasa buruh tidak akan mengganggu jadwal penerbagan di bandara Soekarno-Hatta. "Kami yakin lancar saja, tapi untuk kerugian itu belum tahu ada atau tidak karena belum terjadi. Kalau pun ada itu kompensasi untuk penumpang yang terlambat," ujarnya.

AFRILIA SURYANIS

Topik Terhangat:
Harga BBM | Susno Duadji | Gaya Sosialita | Ustad Jefry | Caleg

Berita Terpopuler:
Pengedar Sabu itu Ternyata Perwira Berprestasi
VIDEO Susno Duadji: Saya Tak Akan Lari
Jaksa Waspadai Pengawalan Bersenjata Susno 
Kolonel ASB Memakai Sabu Sejak 2004 
SBY: Harga BBM Naik kalau Ada Dana Kompensasi


09.35 | 0 komentar | Read More

Penyelundupan Gula Subur di Daerah Perbatasan

TEMPO.CO, Jakarta -Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) mempertanyakan tanggung jawab pemerintah terkait kacaunya pengadaan dan distribusi gula di daerah perbatasan Indonesia. Kurangnya pasokan gula dari Jawa ke daerah perbatasan itu dinilai menyuburkan praktik penyelundupan. 

"Produksi gula konsumsi hanya dapat diserap oleh konsumen di Jawa. Lalu bagaimana dengan konsumen di perbatasan? " kata Ketua Apegti Natsir Mansyur di sela-sela peringatan Hari Konsumen Nasional di Jakarta, kemarin. 

Menurut Natsir, konsumsi gula nasional mencapai 2.9 juta ton per tahun. 
Padahal, produksi gula konsumsi di Jawa hanya 2,1 – 2,3 juta ton juta per tahun. Sehingga, hampir seluruh produksi hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Jawa.  

Natsir mengungkapkan, sudah setahun belakangan masyarakat perbatasan tidak mendapat distribusi gula dengan baik. Disparitas harga gula antara Jawa dan perbatasan pun sangat tinggi. "Di Kalimantan, harga gula konsumsi dari Malaysia sekitar Rp. 10.000 per kilogram. Gula dari Jawa malah Rp. 13.000 per kilogram. Itupun sulit didapat," katanya. 

Tak hanya gula, kata Natsir, kebutuhan pangan lainnya seperti beras, daging sapi dan makanan olahan lebih mudah didatangkan dari negara tetangga dibandingkan dari Indonesia sendiri. Apegti menilai pemerintah kurang peka terhadap permasalahan yang terjadi di perbatasan. 

"Kalau regulasi impor gula diatur dengan baik, penyeludupan akan berkurang, pajak bea masuk buat dapat diperoleh negara, dan tidak akan terjadi lagi perselisihan sesama warga dan aparat. 
 
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan, pemerintah telah memberikan jatah khusus impor gula bagi Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Riau. "Sudah dari dulu sejak 8 tahun yang lalu," kata Bayu pada kesempatan yang sama. 

Menurut Bayu, jatah impor khusus itu diberikan karena distribusi gula dari Jawa ke dua wilayah terluar Indonesia itu tak optimal. Masalah distribusi itu membuat kebutuhan konsumsi gula di sana tidak terpenuhi.  

Tahun lalu, Kalimantan juga mendapat jatah impor khusus gula kristal putih untuk memenuhi kebutuhannya. "Sekarang mereka mengajukan (izin) lagi. Tetapi tahun ini belum ada izin yang keluar," kata Bayu.

Pengusaha menyatakan mendukung langkah pemerintah yang mengeluarkan izin impor khusus bagi daerah perbatasan. "Memang diperlukan langkah-langkah yang tepat dengan membuat regulasi atau tata niaga yang baik dalam pemenuhan kebutuhan gula dan bahan pokok, sehingga tidak semua barang menjadi ilegal," kata Natsir. 

PINGIT ARIA


09.35 | 0 komentar | Read More

Kadin: Solar Langka Industri Merugi

Written By Unknown on Senin, 29 April 2013 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta - Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Haryadi Sukamdani menyatakan bahwa industri dipastikan merugi akibat kelangkaan solar yang terjadi di berbagai daerah. Menurut dia, akibat kelangkaan tersebut mengganggu jadwal pengiriman barang logistik.

"Kami belum menghitung berapa kerugiannya. Tapi yang pasti keterlambatan pengiriman barang bisa sampai tiga hari. Tentu ini mengakibatkan kerugian," kata Haryadi, saat dihubungi Tempo, Ahad, 28 April 2013.

Haryadi menyatakan, para pelaku industri banyak mengeluhkan kelangkaan tersebut, karena customer komplain dan kemungkinan akan memotong pembayaran akibat keterlambatan. "Bayangkan buat pelaku industri ekspor yang jadwalnya sangat ketat. Meleset sedikit, ditinggal kapal," katanya.

Haryadi mencurigai kelangkaan solar ini akibat adanya penyelewenangan dan di berbagai daerah. "Jangan-jangan ini deselundupkan karena harga solar di Indonesia sangat murah dibandingkan di luar negeri," katanya.

ANGGA SUKMA WIjAYA


Topik Terhangat:
Edsus Sosialita | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional | Bom Boston

Baca juga:
Pria Tampan Diusir dari Arab Angkat Bicara
Twit Terakhir, Ustad Uje Baca Doa Mau Tidur
Ini Spesifikasi Motor Gede yang Ditunggangi Uje
Pose 'Ajaib' Para Sosialita di Depan Kamera


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger