Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Garuda Indonesia Maskapai Pertama dengan Wi-Fi

Written By Unknown on Rabu, 03 Juli 2013 | 09.36

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan, Evert Erenst Mangindaan menyatakan banyak pesawat yang mengajukan permohonan izin penggunaan Wi-Fi. "Tapi yang pertama menggunakan itu Garuda Indonesia," ujarnya saat ditemui di Hanggar 2 Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia, Selasa malam, 3 Juli 2013.

Ia menuturkan, penggunaan Wi-Fi tersebut akan diuji coba dalam "proofing flight" Garuda Indonesia dengan pesawat Boeing 777-300 ER dari Cengkareng ke Denpasar pada 6 Juli mendatang. Mengenai regulasi, Mangindaan menyebut segera melakukan koordinasi antarkementerian.

"Besok akan diselesaikan di kantor, itu antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," ucapnya.

Wakil Menteri Perhubungan sekaligus Komisaris Utama Garuda Indonesia, Bambang Susantono, menyatakan akan mengatur penggunaan internet dalam penerbangan. "Yang terpenting, penggunaan Wi-Fi di Boeing 777-300 ER ini tidak melanggar undang-undang," kata dia. Ia menyebut, penggunaan alat telekomunikasi dengan "gadget" selain telepon selular akan diatur dengan memperbarui undang-undang yang ada.

Ia menuturkan, Kementerian Perhubungan juga akan membicarakan penggunaan Wi-Fi tersebut dengan International Civil Aviation Organization (ICAO). Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan penggunaan Wi-Fi dalam pesawat berbenturan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang penerbangan.

"Karena menurut undang-undang penerbangan, tidak boleh ada penggunaan alat telekomunikasi selama terbang," kata juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Gatot S. Dewa Broto. Selain itu, ia melanjutkan, sertifikasi perangkat Wi-Fi Boeing 777-300 ER masih harus dipastikan.

Gatot pun mengungkapkan, otoritas penerbangan negara tujuan Boeing 777-300 ER yang dioperasikan Garuda Indonesia harus memberi "clearance" mengenai penggunaan Wi-Fi di pesawat tersebut.

MARIA YUNIAR


09.36 | 0 komentar | Read More

Mesin Boeing Garuda Diklaim Bebas Masalah  

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Operasi PT Garuda Indonesia, Novianto Herupratomo, menyatakan Boeing 777-300ER yang didatangkan perseroan terbebas dari kerusakan yang sempat menimpa pesawat sejenis yang dioperasikan Air China beberapa waktu lalu. "Mesinnya sama tapi tidak ada masalah," kata dia saat ditemui di hangar 2 Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia, Selasa 2 Juli 2013.

Menurut Novianto, mesin Boeing yang dipesan Garuda dibuat oleh General Electric. Namun mesin ini berbeda dengan pesawat bermasalah milik Air China, yang dibuat pada September 2012 hingga Maret 2013. "Soal jaminan keamanan, silakan langsung tanya pada Boeing," ucapnya.

Pada pertengahan Mei 2013, The Boeing Company dan General Electric mengumumkan penghentian sementara operasionalisasi pesawat Boeing 777-300ER lantaran berpotensi mengalami kerusakan. Mesin pesawat itu bisa tiba-tiba mati saat mengudara. Masalah ini menimpa maskapai penerbangan Air China pada Februari dan 9 Mei 2013.

Menurut juru bicara General Electric, Rick Kennedy, kerusakan mesin itu tidak didahului peringatan seperti percikan api, ledakan atau minimal batuk-batuk. Setelah diselidiki, ternyata ada masalah pada komponen transfer gearbox. Alat yang dibuat oleh perusahaan Italia, Avio SpA, pada September dan Maret 2012 ini berfungsi untuk menyalurkan tenaga dari mesin pada pompa bahan bakar dan bagian vital lain.

Komponen tersebut ternyata sudah dipasang pada 26 pesawat Boeing 777-300 ER yang beroperasi di seluruh dunia. Sisanya akan dipasang pada 44 pesawat yang tengah dirakit. Sebelum masalah ini meluas, Boeing dan General Electric meminta maskapai untuk memeriksa dan mengganti komponen bermasalah itu.

Boeing 777 adalah pesawat angkut besar untuk menempuh rute jarak jauh. Pesawat ini bisa mengangkut 300 - 550 penumpang dengan jarak 5.235 - 9.380 nautical miles atau sekitar 9.695 - 17.370 kilometer. Pesawat dengan kendali komputer (fly-by-wire) ini dijual seharga US$ 300 juta (sekitar Rp 2,9 triliun).

Garuda akan mendatangkan 4 unit Boeing 777-300ER pada tahun ini. Dua diantaranya digunakan untuk rute Jakarta-Jeddah. Sedangkan dua lainnya digunakan untuk penerbangan Sydney-Jakarta-London mulai November 2013.

MARIA YUNIAR

 Terpopuler
Demonstran Wanita 'Diraba-raba' di Tahrir Square  
Militer Mesir Beri Waktu Mursi 48 Jam
Jawaban 21 Negara yang Dimintai Suaka Snowden
Bush: Snowden Rugikan Amerika  
Mesir Memanas, KBRI Tingkatkan Pengawasan WNI


09.36 | 0 komentar | Read More

Rupiah Berpotensi Menguat Lagi

TEMPO.CO, Jakarta - Surutnya tekanan dolar membuat gejolak pada nilai tukar rupiah mereda. Posisi kurs yang relatif rendah saat ini bisa memicu penguatan atau technical rebound pada rupiah.

Pada Rabu 3 Juli 2013, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran 9.800-9.900 per dolar Amerika. Belum adanya sentimen positif menjadi penghambat apresiasi rupiah. Namun pelemahan yang terjadi sehari bisa memicu potensi rebound rupiah yang berada di level rendah. Seperti diketahui, pada Selasa 2 Juli 2013, rupiah melemah 9 poin (0,09 persen) ke level 9.937 per dolar Amerika Serikat. Rupiah bergerak datar dalam kisaran sempit 9.920-9.940 per dolar.

Ekonom Bank Danamon, Dian Ayu Yustina, mengatakan volatilitas rupiah tak terlalu dinamis lantaran sikap investor yang mulai tenang menghadapi program pengurangan stimulus bank sentral Amerika Serikat (The Fed). "Meski posisinya masih cenderung melemah, pergerakan rupiah tidak liar seperti sebelumnya," kata dia kepada Tempo.

Tekanan global relatif mereda seiring dengan data manufaktur Amerika yang membaik. Hal itu memberi kesempatan kepada investor untuk menyesuaikan diri dengan pergerakan dolar yang mulai memasuki fase jenuh beli (overbought). Secara teknikal, posisi dolar yang terus menguat bisa menyebabkan koreksi.

Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah di pasar domestik mulai berkurang seiring dengan meredanya permintaan dolar oleh korporat pada awal bulan. Meningkatnya kebutuhan dolar pada akhir bulan ditujukan untuk pembayaran dividen swasta serta pelunasan kewajiban yang jatuh tempo. "Permintaan dolar yang berkurang semestinya mendorong penguatan rupiah," ujar Dian.

Di sisi lain, defisit perdagangan Mei yang sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya membuat likuiditas dolar di pasar domestik relatif terjaga. Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei sebesar US$ 590 juta, menyusut ketimbang April yang sebesar US$ 1,61 miliar. Berkurangnya beban defisit bisa mengurangi tekanan defisit transaksi berjalan.

MEGEL JEKSON



09.36 | 0 komentar | Read More

Harga Cabai di Sidoarjo Melejit

Written By Unknown on Selasa, 02 Juli 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Sidoarjo- Harga komoditas cabai rawit melejit dan paling mahal di pasar tradisional. Seorang pedagang di Pasar Baru Wadungasri, Masfufah, menuturkan harga cabai rawit saat ini menembus Rp 50 ribu per kilogram, naik ketimbang kemarin sebesar Rp 40 ribu per kilogram.

Menurutnya harga komoditas cabai rawit tidak stabil, saban hari berfluktuatif. Satu bulan sebelumnya, harga cabai rawit di pasar itu hanya Rp 15 ribu per kilo. Selain cabai, harga bawang merah juga tidak stabil. Harga bawang merah sempat menyentuh Rp 35 ribu per kilogram, naik daripada hari sebelumnya seharga Rp 25 ribu per kilogra. "Katanya masih musim hujan, jadi petani panen sedikit. Selain itu sejak rencana kenaikan BBM, harga sudah naik turun," kata ia kepada Tempo saat ditemui di pasar, Senin 1 Juli 2013. 

Sementara harga bawang putih cenderung turun. Ia menjual bawan putih jenis cating seharga Rp 12 ribu per kilogram dan bawang putih sinco seharga Rp 9 ribu- 10 ribu per kilogram.Pedagang lainnya, Jufri, mengaku harga sembako fluktuatif menjelang maupn sesudah harga BBM subsidi naik.

Jufri melihat gejolak harga akan terus berlanjut hingga memasuki Ramadhan. Selain BBM naik dan faktor panen, permintaan saat Ramadhan lebih banyak ketimbang hari-hari biasa sementara stok komoditas tak menentu. Cabe rawit masih menjadi komoditas yang paling bergejolak, naik turun sangat tajam. "Pagi tadi masih Rp 45 ribu per kilo, menjelang sore sudah Rp 50 ribu per kilogram," ujarnya. 

Untuk harga telor sebesar Rp 19-20 ribu per kilogram, beras jenis pelikan Rp 9.500, minyak goreng Rp 8.600 per liter dan tomat Rp 6 ribu per kilogram. Semua komoditas naik turun, namun masih relatif terjangkau. Sementara komoditas kacang mente justru turun seharga Rp 85 ribu per kilogram, dari tahun lalu seharga Rp 95 ribu. Kacang mente, ucapnya, hanya dijual saat memasuki Ramadhan hingga Idul Fitri. Sayangnya, ia tak tahu pasti penyebab turunnya harga kacang mente. 

DIANANTA P. SUMEDI 


Berita Lainnya:

Stasiun UI Masih Gunakan Tiket Kertas
Alasan Hanura Pilih Hary Tanoe Jadi Cawapres
Dinamit Hilang, Bareskrim Mabes Polri Turun Tangan
7 Vaksin yang Tidak Boleh Terlewatkan
Pemilihan Kades Tangerang , Kantor Camat Dirusak


09.35 | 0 komentar | Read More

Gudang Garam Bagikan Dividen Rp 800 per Saham

TEMPO.CO, Jakarta - Produsen rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membagikan dividen tunai senilai total Rp 1,53 triliun atau sekitar 26,7 persen dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2012. 

"Besar dividen yang diterima masing-masing pemegang saham adalah Rp 800 per saham," ujar manajemen perseroan dalam keterbukaan informasinya di situs Bursa Efek Indonesia, Senin, 1 Juli 2013.

Keputusan itu diambil dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang diadakan pada Sabtu pekan lalu di Kediri. Dalam rapat tersebut, perseroan juga menerima pengunduran diri Yudiono Muktiwidjojo sebagai Komisaris Independen dan Ginawati selaku Direktur.

Selain itu perseroan juga menyetujui laporan keuangan tahunan 2012 yang telah diaudit. Untuk tahun lalu, Gudang Garam mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp 4,01 triliun dari sebelumnya Rp 4,89 triliun di tahun 2011.

Gudang Garam menguasai setidaknya 20,7 persen pangsa pasar rokok di Indonesia. Penjualan rokok dalam negeri tercatat sebanyak 68, 04 juta batang rokok dan ekspor sebanyak 5,2 juta batang rokok.

RIRIN AGUSTIA


Berita Terpopuler:

Begini "Nakal"-nya Briptu Rani
Jawaban Menteri Roy Soal Marah di Hotel
Cuma Jokowi yang Dipandang Mampu Bendung Prabowo 
Gerindra Pegang Teguh Janji Jokowi
Cara Kepolisian Tutupi Kasus Upaya Suap Anggotanya


09.35 | 0 komentar | Read More

Harga Cabe Rawit di Bandung Tembus Rp 60 Ribu

TEMPO.CO, Bandung- Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung mencatat kenaikan harga bahan makanan di lima pasar tradisonal di Kota Bandung.  Kenaikan tertinggi terjadi pada harga cabe rawit merah, yang rata-rata naik dari Rp Rp 24.400 menjadi Rp 59.400 per kilogram.

Harga cabe rawit merah terendah di Kota Bandung terpantau di Pasar Andir sebesar Rp 57 ribu per kilogram. Sementara di empat pasar tradisional lainnya yakni Pasar Kosambi, Pasar Sederhana, Pasar Kiaracondong, dan Pasar Baru, harga cabe tembus Rp 60 ribu per kilogram.

Harga bawang merah juga naik tajam hanya dalam sehari. Harga bawang merah loncat Rp 10 ribu menjadi Rp 39.600 per kilogram. Harganya di tiap pasar tradisional bervariasi antara Rp 38 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogram.

Lonjakan harga  juga terjadi di komoditas bahan makanan lainnnya. Cabe merah biasa naik Rp 12.400 atau 26,38 persen menjadi Rp 59.400 per kilogram, daging ayam broiler naik Rp 4.200 atau 13,91 persen, menjadi Rp 34.400 per kilogram, serta cabe rawit hijau naik Rp 4 ribu atau 13,79 persen menjadi Rp 33 ribu per kilogram.

Kendati demikian, harga sejumlah bahan makanan juga ada yang turun. Harga bawang putih turun Rp 2 ribu atau 11,24 persen menjadi Rp 15.800 per kilogram, serta cabe merah keriting turun Rp 5.400 atau 13,5 persen menjadi Rp 34.600 per kilogram. Sisanya, harganya masih bertahan.

Kepala Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Ferry Sofwan Arief mengatakan, harga cabai yang terpantau itu terhitung sudah sangat tinggi. "Ini sudah termasuk sangat tinggi, dibandingkan harganya di bulan Mei," kata dia saat dihubungi Tempo, Senin, 1 Juli 2013.

Khusus bumbu cabai itu, kata Ferry, memang terjadi ketimpangan antara permintaan dan produksinya di Jawa Barat. Mengutip data Bahan Ketahanan Pangan Jawa Barat, kebutuhan cabai setahun 283.545 ton, sementara produksi cabai hanya 188.763 ton.

Dia khawatir pemicunya adalah anjloknya panen di tingkat petani. Mengantisipasi itu, sejumlah daerah yang jadi sentra produksi cabai diminta untuk memprioritaskan pemasarannya di daerah terdekatnya dulu. Sentra cabai di Jawa Barat itu di antanray di Tasimalaya, Majlaengka, serta Ciamis.

Sementara lonjakan harga daging ayam, dia menduga penyebabnya dipicu oleh kenaikan harga BBM. Ferry mengatakan, harga penjualan daging ayam di peternak hanya 17.500 per kilogram. "Saya menduga karena kenaikan BBM, memicu setiap rantai penjualan menaikkan harga," kata dia.

Menurut Ferry, pemerintah Bandung mempunyai mekanisme operasi pasar untuk menurunkan harga. Hanya saja, produk bahan makanan yang disasar terbatas yakni beras, minyak goreng, tepung terigu, dan telur. Sejumlah daerah sudah menyiapkan menggelar operasi pasar untuk menekan gejolak harga.

AHMAD FIKRI

Berita Terpopuler:
Begini "Nakal"-nya Briptu Rani
Jawaban Menteri Roy Soal Marah di Hotel
Cuma Jokowi yang Dipandang Mampu Bendung Prabowo 
Gerindra Pegang Teguh Janji Jokowi
Cara Kepolisian Tutupi Kasus Upaya Suap Anggotanya


09.35 | 0 komentar | Read More

Hari Ini Uji Kelayakan 3 Calon Deputi Gubernur BI

Written By Unknown on Senin, 01 Juli 2013 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta:Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat akan menguji kelayakan dan kepatutan tiga calon deputi gubernur BI, Senin, 1 Juli 2013. Komisi akan memilih satu dari tiga calon itu untuk meneruskan masa jabatan Muliaman Hadad yang terpilih sebagai Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Sisa jabatan sampai 2016," kata Wakil Ketua Komisi Keuangan, Harry Azhar Azis kepada Tempo, Ahad, 30 Juni 2013.

Dari tiga kandidat yang dicalonkan Presiden SBY, dua orang menjabat Asisten Gubernur BI, yakni Hendar dan Mulya Siregar. Satu lainnya, Tresna Wilda Suparyono menjabat Direktur Eksekutif Direktorat Pengelolaan Devisa.

Sebagai Wakil Ketua Komisi, Harry belum tahu sosok yang dicari kali ini. Tapi, ia cenderung memilih calon berlatar belakang bukan dari dewan gubernur. "Barang kali orang yang terkait makroprudential atau stabilitas sistem keuangan," katanya.

Ia memahami dalam konteks stabilitas sistem keuangan sudah diatur tentang keberadaan Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Tapi saya berharap lead sector di BI," katanya.

Rencananya, pengambilan keputusan di Komisi untuk pengujian kali ini berlangsung pada 8 juli 2013. Awalnya, Komisi menjadwalkan mengambil keputusan pada hari pengujian, tapi diundur karena beberapa anggota komisi menyatakan butuh waktu. "Saya tidak tahu alasannya, mungkin ada beberapa yang masih menganggap perlu waktu ambil keputusan," katanya.

Paska uji kelayakan dan kepatutan Deputi Gubernur BI, Komisi juga akan menggelar Uji Kelayakan dan Kepatutan untuk mencari pengganti lima anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI). "10 orang dicalonkan Presiden, kami ambil lima," katanya. Proses pengujian dijadwalkan berlangsung pada 3 Juli 2013. Anggota terpilih akan menjabat selama 3 tahun.

MARTHA THERTINA


09.35 | 0 komentar | Read More

Pengusaha: Tiga Hal Pengganjal Investasi Tambang

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (APEMINDO) Ladjiman Damanik menyatakan ada tiga hal yang menghambat investasi di sektor pertambangan di Indonesia. Ketiga aspek ini adalah aspek hukum, infrastruktur dan pendanaan untuk sektor tambang.

"Pertama soal aspek legal ini birokrasi antara pemerintah pusat dan daerah tidak pernah cocok dengan adanya euforia otonomi daerah," kata Ladjiman ketika dihubungi Tempo, Minggu malam, 30 Juni 2013.

Ladjiman mencontohkan tidak ada koordinasi pemerintah daerah dengan pusat terkait penerbitan izin usaha pertambangan (IUP). Tak adanya sinkronisasi ini menurut Ladjiman membuat pemerintah pusat akhirnya melakukan verifikasi clean and clear IUP.

Selain itu, Ladjiman mengatakan sumber daya manusia untuk sektor pertambangan di pemerintah kabupaten masih sangat minim. "Bayangkan, di daerah itu kepala dinas pertambangan ada yang sarjana agama, sarjana pendidikan. Jadi kalau ada investor asing masuk untuk mengurus surat izin, mereka (dinas pertambangan) tidak bisa menyampaikan koordinat batas wilayah pertambangan," kata Ladjiman.

Aspek ke dua, menurut Ladjiman terkait infrastruktur yang masih sangat terbatas. Dia mengeluhkan di tengah dorongan pemerintah agar tak ada lagi ekspor bahan mentah, belum ada perencanaan jelas terkait penyediaan listrik untuk smelter. Selain itu perlu juga dipertimbangkan infrastruktur logistik seperti pelabuhan untuk smelter. "Perlu ada pelabuhan terpadu untuk melayani smelter ini," katanya.

Terakhir, kata Ladjiman,  adalah keterbatasan akses pendanaan masih menjadi kendala dalam investasi pertambangan. Pasalnya, perbankan di Indonesia belum familiar untuk mendanai sektor pertambangan.

Dia berharap pemerintah membuat terobosan, misalnya dengan menerapkan pola inti dan plasma untuk smelter. "Pemerintah membantu dengan meminta BUMN membangun smelter. Nanti BUMN bersifat sebagai perusahaan inti dan pemegang IUP menjadi plasmanya. Soalnya investasi smelter ini luar biasa besar," kata Ladjiman.

Ladjiman juga mengharapkan agar dana bea keluar mineral sebesar 20 persen juga dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur. "Kami kan sudah membayar bea keluar cukup besar 20 persen. Idealnya ini dipakai untuk membangun pembangkit listrik dan pelabuhan untuk smelter. Masa semua harus didanai oleh swasta?" kata Ladjiman.

BERNADETTE CHRISTINA

Topik Terhangat
Ribut Kabut Asap |PKS Didepak?| Persija vs Persib |Penyaluran BLSM |Eksekutor Cebongan

Baca Juga:
Diego Maradona Emoh Tampil di Dahsyat
Ini Wasit Final Piala Konfederasi 2013
Jokowi dan Megawati Terpukau dengan Ariah


09.35 | 0 komentar | Read More

Harga Naik, Kuota BBM Diperkirakan Tetap Jebol

Sebuah SPBU di penuhi oleh warga yang akan membeli dan memenuhi tangki kendraannya di Hayam Muruk, Jakarta Barat, (21/6). Jelang Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM subsidi warga rela mengantri untuk mengisi BBM. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi diperkirakan tak efektif menekan konsumsi bahan bakar minyak. Kuota BBM bersubsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013 sebesar 48 juta kiloliter diperkirakan akan tetap terlampaui.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan kuota BBM bersubsidi yang realistis tahun ini sekitar 50 - 51 juta kiloliter. Hal ini dengan pertimbangan penyaluran BBM bersubsidi pada 2012 sebesar 45 juta kiloliter dan konsumsi tumbuh sekitar 8 - 10 persen per tahun.

"Tidak ada jaminan kenaikan harga menekan konsumsi, karena BBM sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat dan belum ada penggantinya, baik bahan bakar alternatif maupun transportasi massal yang bisa dimanfaatkan masyarakat," kata Pri Agung ketika dihubungi Tempo, Minggu malam, 30 Juni 2013.

Pri Agung mengatakan tren penurunan konsumsi Premium dan minyak solar yang terjadi dalam sepekan terakhir hanya bersifat sementara. Pertamina melaporkan sepekan setelah harga BBM bersubsidi naik, rata-rata penjualan harian turun sekitar 14 persen dari sebelum kenaikan harga.

Namun, pada Sabtu, 29 Juni 2013 penjualan solar sudah kembali naik menjadi 90 persen dari penjualan sebelum kenaikan harga. Sementara penjualan Premium pada akhir pekan lalu sudah 97,94 persen dari penjualan sebelum kenaikan harga.

"Penurunan ini juga karena sebelum kenaikan harga, penjualan sudah meningkat baik karena ada yang menimbun maupun kepanikan dari masyarakat mengantisipasi kenaikan harga," kata Pri Agung.

Pri mengakui dengan kenaikan harga ini akan ada sebagian konsumen akan beralih ke BBM non subsidi karena selisih harga yang menipis. Namun, di sisi lain permintaan BBM bersubsidi tetap akan bertambah dengan meningkatnya jumlah kendaraan.

Dalam APBNP 2013, pemerintah menyediakan subsidi BBM dan LPG sebesar Rp 199,85 triliun dengan kuota BBM bersubsidi 48 juta kiloliter. Sebelumnya dalam APBN 2013 pemerintah menyediakan subsidi BBM dan LPG sebesar Rp 193,8 triliun dengan kuota BBM bersubsidi 46,01 juta kiloliter.

BERNADETTE CHRISTINA


09.35 | 0 komentar | Read More

Bangun Jembatan Selat Sunda, Ratu Atut Dekati Kampus

Written By Unknown on Minggu, 30 Juni 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah datang ke Bandung untuk minta dukungan pembangunan Jembatan Selat Sunda. Berulang kali Atut menyampaikan permintaannya saat paparan rencana jembatan itu di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Sabtu, 29 Juni 2013.?

Menurut Atut, jembatan Selat Sunda sangat penting untuk membangkitkan kondisi perekonomian masyarakat Sumatera dan Jawa. Selain itu, jembatan menjadi solusi masalah kemacetan panjang menuju ke Pelabuhan Merak seperti yang terjadi saat ini.

Menurutnya, ada 5 penyebab terus memanjangnya antrean kendaraan yang akan ke pelabuhan Bakauheuni, Lampung. Pertama, meningkatnya jumlah penumpang kapal feri, kemudian gelombang tinggi laut, kurangnya dermaga, usia kapal feri yang sudah tua, serta panjang truk yang melebihi ketentuan.?

Pada 2004, antrean kendaraan paling jauh sampai 2 kilometer. Kemudian pada 2012 menjadi hingga 15 kilometer. "Karena itu, kami minta dukungan pada para peneliti di ITB, UI, UGM, untuk pembangunan jembatan ini," ujarnya.

Atut juga menyatakan, pihak pemrakarsa yaitu pemerintah provinsi Banten, Lampung, dan Artha Graha yang tergabung dalam PT Graha Banten Lampung Selatan (GBLS) tetap akan mencoba pembangunan jembatan jika pemerintah pusat tidak mendukung.

Wakil Rektor ITB Bidang Riset Wawan Gunawan mengatakan, ITB, UI, dan UGM telah membentuk forum konsorsium perguruan tinggi untuk menyiapkan kajian dan riset jembatan Selat Sunda. Kajian itu dibahas bersama Kementerian Pekerjaan Umum. "Kegiatan kajiannya sudah banyak, pertemuan seperti ini juga dilakukan secara berkala dengan berbagai pihak," katanya.

ANWAR SISWADI


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger