Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Akhir Pekan, Rupiah Terpeleset 20 Poin  

Written By Unknown on Sabtu, 04 Januari 2014 | 09.35

TEMPO.CO, Jakarta - Kembali menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang dunia menyebabkan laju rupiah kembali terganjal. Pada transaksi pasar uang hari ini, rupiah ditutup menyusut 20 poin (0,16 persen) ke level 12.180 per dolar AS. Rupiah terseret arus pelemahan yang dialami semua mata uang regional Asia.

Namun, bila dihitung selama sepekan, rupiah masih menguat 81 poin (0,66 persen) dibanding posisi pekan sebelumnya.

Pengamat pasar uang, Albertus Christian, mengatakan rilis data-data ekonomi Amerika yang membaik ditambah data manufaktur Cina yang melemah telah menguntungkan posisi dolar AS. "Perlambatan manufaktur Cina memunculkan risiko tambahan berupa terhambatnya ekonomi sehingga investor kembali memburu dolar sebagai safe haven."

Angka klaim penganggur bulan Desember turun ke 339 ribu orang, semakin menyusut dari bulan sebelumnya di 341 ribu. Berkurangnya jumlah klaim penganggur semakin menguatkan persepsi angka pengangguran di AS bisa ditekan ke bawah level 7 persen.

Untungnya, surplus perdagangan bulan November yang mencapai US$ 778 juta mampu menahan gempuran dolar AS sehingga rupiah tidak melemah terlalu dalam. "Tingginya angka surplus perdagangan diharapkan berjalan konsisten sehingga defisit perdagangan Januari-November 2013 senilai US$ 5 miliar bisa menyempit," ujar Albertus.

PDAT | M. AZHAR


09.35 | 0 komentar | Read More

Wakil Menkeu Minta Pertamina Kawal Harga Elpiji  

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodojonegoro menilai Pertamina tidak tegas menetapkan patokan harga elpiji 12 kilogram ke pelanggan. Pengendalian tidak cukup hanya sampai tingkat agen dan distributor. "Harus dibatasi sampai pelanggan itu maksimalnya sekian. Jadi, margin agen, distributor, termasuk biaya transportasinya itu harus ditegaskan," kata Bambang di kantor Kementerian Keuangan, Jumat, 3 Januari 2014.

Menurut Bambang, Pertamina harus tegas bila ada agen yang bermain dan memanfaatkan kesempatan saat harga naik. "Harus diberi peringatan, kalau perlu dicabut saja izin agennya, karena seharusnya kenaikannya tidak sampai seperti yang dibicarakan di media," kata Bambang.  (Baca:Pertamina Akan Beri Sanksi Penyalur Elpiji Nakal)

Dia mengaku sudah menyampaikan secara informal kepada Pertamina. Pihaknya juga sudah memperingatkan kepada Pertamina, bila akan menaikan harga elpiji 12 kilogram, harus dipastikan tidak ada migrasi ke gas elpiji 3 kilogram. "Karena ujungnya akan menambah subsidi," katanya.

Selain itu, patokan harga akhir kepada konsumen, sehingga agen tidak bermain dengan mencari tambahan margin. "Kenaikan ini tidak gampang, baik untuk Pertamina maupun konsumen."

Menurut Bambang, rencana kenaikan gas elpiji 12 kilogram saat 2013 lalu lebih berat karena bersamaan dengan inflasi yang besar pada Juli-Agustus. "Waktu itu, Pertamina mau merilis ide itu, tapi kami bilang tidak cocok karena inflasi dalam tekanan. Namun, jika 2014, sejauh ini tidak ada kebijakan kenaikan harga BBM, lebih bagus dibanding kondisi 2013 lalu," ujar dia.

Bambang mengakui jika kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram hingga 10 persen akan memberikan andil terhadap infalsi sepanjang tahunnya sebesar 0,5 persen. Namun, jika ada ketegasan harga dan bisa mengendalikan migrasi ke gas 3 kilogram, dampak inflasi relatif bisa dikendalikan. (Baca: Begini Inovasi Warga Batu Siasati Harga Elpiji)

ANGGA SUKMA WIJAYA

Berita Terpopuler
BPS: Biaya Hidup di Jakarta Paling Tinggi 
Begini Inovasi Warga Batu Siasati Harga Elpiji 
Trik Promosi Bisnis Lewat Youtube 


09.35 | 0 komentar | Read More

Penerapan UU Minerba Bisa Kurangi Devisa US$ 5 M  

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan penerapan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) berpotensi menggerus devisa negara hingga US$ 5 miliar. "Saat ekspor barang mineral mentah tidak ada lagi, secara logis yang berproduksi hanya pemasok pengolahan pemurnian," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Sukhyar, seusai konferensi pers, Jumat, 3 Januari 2014.

Ia menjelaskan, penerapan undang-undang itu akan berdampak pada penurunan volume ekspor barang mineral mentah. Sukhyar menuturkan, pada 2013, Kementerian ESDM mencatat devisa negara dari sektor pertambangan mineral mencapai US$ 11 miliar.

"Tahun ini mungkin hanya sekitar US$ 6 Miliar," kata dia. Sukhyar menilai penurunan itu hanya terjadi selama satu tahun. Setelah 2014, ia berpendapat, penerimaan devisa negara akan naik secara bertahap dengan beroperasinya smelter. Ia memprediksi penerimaan devisa negara dari ekspor barang mineral mentah pada 2015 akan mencapai US$ 9 miliar.

Sementara itu, angka tersebut diproyeksikan mengalami kenaikan hingga mencapai US$ 25 miliar pada 2016. Kementerian ESDM menyatakan, mulai 12 Januari mendatang, ekspor mineral mentah pasti dihentikan. "Komitmen sudah jelas," kata Sukhyar.

Ia menjelaskan, Direktorat Jenderal Minerba sedang melakukan pertemuan dengan beberapa asosiasi industri di sektor eksplorasi serta pengolahan mineral untuk membahas batas minimum kadar pemurnian mineral guna keperluan ekspor. Sukhyar menuturkan, pertemuan semacam itu digelar menyusul adanya kebijakan pemerintah untuk melarang ekspor mineral mentah, sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Sukhyar mengungkapkan, pertemuan itu dilaksanakan guna menyamakan persepsi antara pemerintah dan para pelaku industri mengenai batas minimal pengolahan mineral. Ia memberi contoh, sebelum ada Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, zircon dianggap sebagai komoditas logam.

"Sekarang pasar lebih suka zircon untuk bahan baku industri mineral," ucap Sukhyar. Meski demikian, ia melanjutkan, pengolahan zircon menjadi logam tetap diizinkan, dengan mengikuti pilihan-pilihan yang ada. Misalnya, logam dengan kandungan minimal zircon sebanyak 65,5 persen diperbolehkan untuk diekspor.

Sukhyar menyebut Direktorat Jenderal Minerba sudah melakukan pertemuan dengan beberapa asosiasi seperti asosiasi pengusaha pasir besi. Ia menuturkan, pertemuan itu menghasilkan kesepahaman batas minimal pengolahan dan pemurnian mineral.

"Pekan depan kami bertemu para pemangku kepentingan dari sektor pasir besi dan nikel, dan selanjutnya kami sampaikan kepada Menteri," kata Sukhyar.

MARIA YUNIAR

Berita Terpopuler:
Ini Buku Baasyir yang Disebut Legalkan Perampokan 
Album Baru, Beyonce Rekam 80 Lagu
Ahok Naik Mobil Dinas, Jokowi: Lihat Saja Nanti 
Ucapan Baasyir Soal JIL sampai Presiden Kafir 
Pindah ke PDIP? Ahok Menjawab Santai 
Gunakan Kata Allah, Malaysia Sita 321 Alkitab  


09.35 | 0 komentar | Read More

Pekan Pertama 2014, Rupiah Diprediksi Loyo  

Written By Unknown on Kamis, 02 Januari 2014 | 09.35

TEMPO.CO, Jakarta - Analis dari Trust Securities Reza Priyambada memprediksi rupiah dalam perdagangan masih loyo, Kamis, 2 Januari 2014. Sebabnya, pelaku pasar masih menunggu menunggu rilis data ekonomi internal dari Badan Pusat Statistik. Selain itu, pasar telah mengantongi kepastian pengurangan stimulus moneter Federal Reserve (tapering off) pada Januari ini.

"Rupiah diprediksi akan mengalami pelemahan. Namun, pelemahan tidak terlalu besar karena pelaku pasar masih menunggu data BPS. Rupiah akan berada pada kisaran Rp 12.000-Rp12.200-an," ujar Reza ketika dihubungi, Kamis, 2 Januari 2014.

Reza menjelaskan, pasar masih ragu terhadap kondisi ekonomi Indonesia seiring dengan masih besarnya nilai defisit neraca transaksi berjalan. "Meski begitu, jika data perekonomian benar negatif, pasar baru akan bereaksi pada pekan depan atau pekan kedua 2014," ujar Reza.

Dia melanjutkan, pada pembukaan tahun baru ini pasar akan mulai memperhatikan isu suksesi kepemimpinan. Sepanjang 2013 nilai rupiah terhadap dolar AS tergerus sekitar 21%, terburuk sejak 2000. Awal 2013, rupiah dibuka pada posisi Rp 9.653 per dolar AS.

GALVAN YUDISTIRA

Berita Lainnya:
Komnas HAM: Teroris Ciputat Wajar Ditembak Mati
Yoona SNSD Pacaran Dengan Lee Seung Gi
Indra Sjafri Akan Coret 6 Pemain Timnas U19
Evan Dimas cs Bertanding Sambil Umrah
Gereja Pantekosta Sumedang Kembali Diserang


09.35 | 0 komentar | Read More

Pertimbangan Saham dalam Perdagangan Hari Ini  

TEMPO.CO, Jakarta - Analis dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan bahwa dalam perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan akan berada pada target support 4224-4255 dan resistance 4278-4293. IHSG diperkirakan bisa melewati kisaran target resisten (4231-4240) yang menunjukkan mulai tingginya aksi beli meskipun masih diiringi dengan profit taking.

"Berpola menyerupai white marubozu di atas middle bollinger bands (MBB). MACD masih uptrend dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih upreversal," ujar Reza dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Januari 2014.

Reza mengharapkan tren penguatan masih akan berlanjut di awal 2014 meskipun mungkin belum banyak aktivitas transaksi. Dua sektor yang layak dipertimbangkan pada tahun ini adalah konsumsi dan pertanian. Pilihan terhadap sektor konsumsi menimbang tren penurunan laju inflasi tahunan dan kenaikan upah minimum yang disinyalir akan membuat tingkat daya beli membaik.

Sementara itu, perbaikan pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor komoditas pertanian menjadi alasan mengapa investor disarankan untuk memilih sektor tersebut.

Pertimbangan saham dalam perdagangan hari ini adalah MNCN, ASII, MPMX, dan JPFA. Sedangkan saham lain yang bisa dijadikan pertimbangan adalah
BBRI, SCMA, EXCL, TOTL dan INCO.

GALVAN YUDISTIRA


09.35 | 0 komentar | Read More

Pertumbuhan Multifinance 2014 Diperkirakan Lambat  

TEMPO.CO, Jakarta - Head of Research PT BNI Securities Norico Gaman mengatakan pada tahun ini industri multifinance diperkirakan akan mengalami pelemahan dibandingkan dengan kinerjanya pada tahun lalu. Hal ini disebabkan kenaikan suku bunga BI di 2013 hingga ke level 7,5 persen dan tidak menutup kemungkinan naik lagi hingga ke level 8,0 persen pada 2014.

"Hal tersebut akan mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan sehingga berdampak pada kenaikan bunga kredit di lembaga multifinance yang lebih tinggi," ujar Norico dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Januari 2014.

Kenaikan suku bunga kredit yang tinggi akan menghambat daya beli konsumen, terutama terhadap produk-produk seperti otomotif, properti, dan peralatan elektoronik. Kondisi ini berdampak terhadap rendahnya permintaan kredit pada multifinance.

"Perusahaan multifinance akan berusaha melakukan efisiensi agar dapat menjaga marjin keuntungan di tengah-tengah melambatnya pendapatan dari kredit konsumen," ujar Norico.

Pada 2014 kinerja industri multifinance diperkirakan akan mengalami pelemahan dibandingkan pada kinerjanya pada tahun 2013 lalu. Perusahaan multifinance akan berusaha melakukan efisiensi agar dapat menjaga marjin keuntungannnya di tengah-tengah melambatnya pendapatan dari kredit konsumen.

GALVAN YUDISTIRA


09.35 | 0 komentar | Read More

Pemerintah Pesimistis Capai Target Tol Baru 2014

Written By Unknown on Rabu, 01 Januari 2014 | 09.35

Kendaraan bermotor melewati area Jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu - Tanah Abang usai diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di kawasan Karet, Jakarta, Senin (30/12). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta -– Pemerintah pusat pesimistis mampu menambah jalan tol baru hingga 120 kilometer sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pesimisme itu lantaran realisasi pembangunan jalan tol baru 2010-2013 hanya mencapai 43,48 kilometer.

"Kami belum bisa memenuhi target," katanya dalam jumpa pers akhir tahun di Kementerian Pekerjaan Umum, Selasa, 31 Desember 2013. Kekurangan yang belum dibangun sebanyak 76,5 kilometer.

Kekurangan ini diakui Djoko tidak mungkin terpenuhi pada 2014. Pemerintah menjadwalkan peresmian jalan tol baru pada tahun depan antara lain: jalan tol Jakarta Outer Ring Road W2, Bogor Ring Road, Gempol-Pandaan, Gempol-Pasuruan dan Surabaya-Mojokerto. (Baca: Jokowi Diminta Percepat Pemebasan Lahan JORR W2)

Lain halnya dengan pembangunan jalan nasional. Djoko mengklaim pemerintah berhasil membangun jalan nasional melampai target RPJMN yang dipatok 1.415 kilometer. "Realisasi mencapai 2.968 kilometer," ujarnya. Tahun depan pemerintah mematok penambahan jalan nasional sepanjang 1.003 kilometer. Djoko menambahkan sebagian besar jalan baru itu akan dibangun di Kalimantan.

APRILIANI GITA FITRIA


09.35 | 0 komentar | Read More

BI Klaim Kinerja Perbankan Jawa Timur Stabil

TEMPO.CO, Surabaya-Bank Indonesia (BI) mengklaim kondisi perbankan di Jawa Timur stabil sepanjang 2013. Hingga November 2013, kinerja perbankan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian di provinsi tersebut.

"Pertumbuhan ekonomi naik, kredit naik, artinya kondisi perbankan Jawa Timur stabil," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur Dwi Pranoto dalam jumpa pers usai serah terima fungsi pengaturan dan pengawasan Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan di Gedung Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur Surabaya, Selasa, 31 Desember 2013.

Sampai November 2013, Bank Indonesia mencatat total aset perbankan di Jawa Timur mencapai Rp 425,01 triliun atau 6,96 persen dari total aset perbankan nasional. Penyaluran kredit mencapai Rp 301,51 triliun dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebesar Rp 325,75 triliun.

Sebagian besar penyaluran kredit ditujukan untuk sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 73,51 persen dari total kredit. Kondisi ini didukung dengan tingkat risiko kredit yang relatif rendah dari jumlah non-performing loan (NPL) sebesar 1,92 persen.

Kredit Usaha Mikro Kecil Menengah meningkat secara tahunan sebesar 20,22 persen sehingga mencapai Rp 86,87 triliun dengan NPL 3,50 persen. Menurut Dwi, pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan akan terus menggenjot UMKM sebagai upaya mendorong pertumbuhan inklusif di Jawa Timur.  "Kami akan perkuat basis UMKM dan ekonomi umat berbasis syariah. Karena keduanya sangat kuat di Jawa Timur," kata Dwi.

Selain itu, pertumbuhan investasi juga tidak kalah dalam memberikan kontribusi. Meski share investasi dari kredit modal kerja hanya sebesar 14,5 persen, tapi pertumbuhannya bisa mencapai 33,5 persen. Ini artinya pergerakan sektor riil mengalami ekspansi cukup signifikan.

AGITA SUKMA LISTYANTI


09.35 | 0 komentar | Read More

Target Kunjungan Bali 2014 Menurun

Wisatawan asing dan domestik berkunjung ke Pura Taman Ayun di Badung, Bali, (8/10). Bali merupakan daerah tujuan wisata yang memiliki tempat-tempat eksotik. ANTARA/Saptono

TEMPO.CO, Denpasar--Pemerintah provinsi Bali menargetkan 3 juta kunjungan wisatawan asing pada tahun 2014. Target itu menurun jika dibandingkan pada tahun 2013 yang sebesar 3,1 juta wisatawan asing. Hal itu disampaikan oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, saat refleksi akhir tahun Pemerintah Provinsi Bali, Selasa 31 Desember 2013.

"Kita tidak usah target tinggi-tinggi, jadi kalau bisa 3 juta wisatawan asing dan 7 Juta wisatawan domestik itu sudah bagus," ujarnya kepada wartawan.

Menurut Pastika, target 3 juta tidak bisa dikatakan sebagai penurunan. Sebabnya, pada tahun 2013 banyak event international di Bali yang dihadiri oleh ribuan tamu asing. "Tidak turun sebenarnya, memang segitu target kita. Kalau tahun ini kan karena banyak event ya," katanya.

Sementara Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) Bali, Ketut Ardana tetap mengharapkan adanya peningkatan kunjungan wisatawan dari tahu 2013 kemaren. Sebabnya, peningkatan dibutuhkan karena jumlah kamar hotel di Bali saat ini sudah dinilai over capacity. Tingkat hunian pada hari-hari biasa hanya mencapai 60 persen, sehingga perang tarif akan terjadi.

"Sebagai pelaku pariwisata, saya berharap ada peningkatan kunjungan ke Bali. kaar hotel sekarang kan sudah over kapacity. Jadi bagaimana pengusaha bisa untung," katanya saat dihubungi TEMPO.

Peningkatan kunjungan yang diharapkan para pengusaha di Bali sebesar 5 persen dari kunjungan 2013, yang ditargetkan mencapai 3,1 juta wisatawan. Selain itu, peningkatan kualitas wisatawn juga menjadi fokus Bali pada tahun 2014.

"Ya minimal ada peningkatanlah, mungkin 3,3 juta wisatawan. Tapi kami juga tidak ingin Bali menjadi chep tourism, harus ada peningkatan kualitas," kata pemilik Bali Sunshine Tour and Travel.

PUTU HERY INDRAWAN

Terpopuler:
Begini Cara Daftar Jadi Peserta BPJS Kesehatan
Baru Dibuka Jokowi, JLNT Casablanca Sudah Macet
Ibu Ini Tak Sengaja Potret Anaknya Bersama Hiu
Premi 1 Pejabat Setara Subsidi 83 Orang Miskin


09.35 | 0 komentar | Read More

Prancis Akan Tarik Pajak Penghasilan 75 Persen  

Written By Unknown on Selasa, 31 Desember 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Paris - Mahkamah Konstitusi Prancis akhirnya menyetujui rencana Presiden Francois Hollande yang akan menerapkan millionaire tax, yakni memungut pajak yang besar dari orang-orang superkaya di negara itu. Pajak ini akan dikenakan pada perusahaan yang membayar gaji eksekutif dan karyawannya lebih dari 1 juta euro atau sekitar Rp 16,7 miliar per tahun.

Usulan ini diajukan Hollande agar Prancis bisa cepat keluar dari krisis keuangan, dengan mengandalkan pajak yang besar dari orang-orang superkaya. Mulanya, rencana ini sudah diusulkan sejak setahun lalu ini dengan menarik pajak langsung dari individu, namun ditolak Mahkamah Konstitusi. Penolakan ini tak membuat pemerintahan Hollande mengurungkan niatnya. 

Belakangan, dalam rancangan baru, pemerintah memodifikasi usulan awalnya, yakni dengan mengusulkan pajak sebesar 50 persen akan dikenakan pada perusahaan yang membayar gaji minimal 1 jura euro.  Namun, ditambah pungutan sosial lainnya, total pajak yang ditarik menjadi 75 persen dari total pendapatan.

Presiden Hollande, yang pernah menyatakan bahwa dia tidak suka orang kaya dan telah dituduh bersikap antibisnis, mengatakan bahwa orang kaya harus memberikan kontribusi yang lebih banyak untuk membantu memperbaiki keuangan negara. Di samping itu, penerapan pajak ini bertujuan mendorong perusahaan untuk membatasi gaji eksekutif yang dibayar secara berlebihan. Namun rencana ini telah memicu kekhawatiran terjadinya aksi eksodus massal para pebisnis, bankir, dan selebritas.

Penerapan pajak miliuner ini akan mempengaruhi sekitar 470 perusahaan dan klub-klub sepak bola yang kini banyak dibeli para taipan dari luar Prancis seperti klub Paris Saint-Germain yang memiliki lebih dari 10 pemain yang digaji lebih dari 1 juta euro, termasuk striker Swedia Zlatan Ibrahimovic. Aktor film Gerard Depardieu memprotes kebijakan itu dengan menyerahkan paspor Prancisnya dan lebih memilih tinggal di Rusia.

Dari penarikan pajak ini, pemerintah diperkirakan akan bisa memperoleh penerimaan sekitar 210 juta euro per tahun atau sekitar Rp 3,5 triliun. Rencananya, penarikan pajak ini akan berlangsung dua tahun, yakni 2013 dan 2014.

Tidak seperti banyak negara lain di Eropa, untuk menurunkan defisit anggaran yang besar, Prancis memilih menaikkan pajak hingga tinggi dan memotong anggaran belanja. Di Inggris, tarif pajak tertinggi sebesar 45  persen dan diterapkan kepada individu.

Rencana Hollande ini seperti menjadi berkah bagi Inggris. Tahun lalu, Perdana Menteri David Cameron mengatakan pemerintahnya akan menggelar karpet merah dan menyambut pebisnis dari Prancis yang memilih hijrah ke Inggris.

INDEPENDENT | MARKETWATCH | IQBAL MUHTAROM

Berita Terpopuler :
Aurelie Takut Kekasihnya Sebarkan Foto Telanjang
Setya Novanto Tak Gubris Panggilan KPK
Kisah Pilu Aurelie Moeremans Setelah Kawin Lari
Sebelum Ditahan, Atut Gerilya ke Petinggi Golkar
Lukaku Bawa Everton Tekuk Southampton 2-1
Apa Tanggapan Jokowi Soal 5 Capres Alternatif?


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger