Sabtu, 20 Oktober 2012 | 06:07 WIB
TEMPO.CO, Purwokerto- Banyaknya kereta rel diesel elektrik (KRDE) yang mengalami kerusakan dinilai merupakan akibat buruknya kereta yang diproduksi oleh PT Inka. "Sejak awal, proyek KRDE memang sudah bermasalah. Kesalahan bahkan sangat mendasar, yakni dari sisi manufaktur dan desain kereta," kata pengamat transportasi publik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Hidayat, Jumat 18 Oktober 2012. Ia menyatakan hal ini ketika dimintai pendapat soal sejumlah kereta yang rusak padahal belum lama beroperasi.
Dari pantauan Tempo, KRDE Maguwo Ekspres beberapa kali mengalami kerusakan. Padahal kereta ini baru beberapa bulan beroperasi. Kereta jarak menengah Purwokerto-Yogyakarta ini bahkan sudah menjadi primadona baru bagi masyarakat Purwokerto. Taufik mengatakan, timbulnya masalah sebenarnya sudah terlihat saat peluncuran KRL Pramex Jogja-Solo pada 2006. Pengembangan KRL, yakni KRDE, bahkan lebih parah lagi dan sering mengalami kerusakan.
Ia menyebutkan, kereta tersebut diberikan oleh Kementerian Perhubungan tanpa melihat sumber daya manusia di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Bahkan fasilitas perawatan untuk kereta jenis ini juga tak diberikan oleh Kementerian. Menurut dia, PT Inka tidak mampu membuat KRDE yang mumpuni. Ia berharap PT Inka hanya menjadi unit perawatan kereta dan tidak terlibat dalam industri strategis kereta api. "Padahal satu rangkaian kereta ini harganya Rp 28 miliar, sayang kalau dibuang percuma," katanya.
Ia mencontohkan, kereta Rancang Geulis di Bandung hanya beroperasi dua jam dan setelah itu rusak. Padahal KRDE seharusnya bisa beroperasi selama 25 tahun. "Sudahlah, proyek ini dihentikan dulu. Audit PT Inka karena yang dirugikan lagi-lagi konsumen," kata dia.
Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno juga menyarankan hal yang sama. "KRDE Maguwo Ekspres masih beruntung bisa beroperasi selama kurang-lebih dua bulan. Sebab, ada KRDE Kaligangsa Ekspres, misalnya, yang baru sehari beroperasi, habis itu mandek," katanya. Ia menyebutkan ada KRDE lainnya yang bermasalah, yakni KRDE Banyubiru, Batara Kresna, dan Madiun Jaya. Ia meminta proyek tersebut dievaluasi.
Dengan persoalan yang muncul, yang terkena imbasnya justru PT KAI. Sebab, kerusakan yang muncul terletak pada mesin. "PT Inka juga mesti belajar soal mesin kereta sehingga tidak muncul persoalan semacam ini," kata dia. Dari penelusuran Tempo di Dipo Lokomotif Stasiun Purwokerto, KRDE Maguwo Ekspres rute Purwokerto-Yogyakarta terlihat teronggok di tempat itu. Perbaikannya pun tidak diketahui sampai kapan.
Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daop) V Purwokerto, Surono, mengatakan, sejak dioperasikan pada 14 Agustus 2012 lalu, dua kali Maguwo Ekspres mengalami kerusakan. "Pertama kali kerusakan pada 26 Agustus, kemudian diperbaiki dan sempat jalan. Lalu, KRDE tersebut harus diperbaiki lagi karena pada 8 Oktober lalu kembali rusak. Sampai sekarang masih diperbaiki," kata dia.
Mandeknya Maguwo Ekspres merugikan Daop V karena sebetulnya tingkat keterisian kereta yang melayani Purwokerto-Yogyakarta dua kali dalam sehari telah mencapai 40 persen. "Banyak juga protes terhadap tidak beroperasinya kereta tersebut. Namun, mau bagaimana lagi, perbaikannya memang belum rampung. Daripada mengecewakan penumpang, kami tidak akan membuka penjualan tiket Maguwo Ekspres hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan," ujarnya.
ARIS ANDRIANTO
Anda sedang membaca artikel tentang
Kereta Api Maguwo Ekspres dan Pramex Salah Desain
Dengan url
https://bisnisantaija.blogspot.com/2012/10/kereta-api-maguwo-ekspres-dan-pramex.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Kereta Api Maguwo Ekspres dan Pramex Salah Desain
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Kereta Api Maguwo Ekspres dan Pramex Salah Desain
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar