Selasa, 13 November 2012 | 05:34 WIB
TEMPO.CO , Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan persaingan antarbank dalam meraup dana simpanan nasabah bakal semakin ketat pada akhir tahun ini. Perbankan mulai mengerek suku bunga depositonya melebihi LPS Rate sebesar 5,5 persen seiring dengan lesunya pertumbuhan dana simpanan nasabah.
"Jika pertumbuhan dana deposito lebih lambat daripada pertumbuhan kredit, akan membuat semakin banyak bank yang berkompetisi bunga guna menjaring dana deposito," kata Kepala Eksekutif LPS, Mirza Adityaswara, ketika dihubungi.
Namun, Mirza menolak menyebutkan bank-bank yang memberi iming-iming suku bunga di atas rate penjaminan LPS. Ia hanya menyebutkan bahwa mereka tak hanya bank kecil beraset di bawah Rp 10 triliun, tapi ada juga bank besar yang rasio kredit terhadap dana simpanan nasabahnya melampaui 90 persen. Bagi LPS, yang penting bank transparan kepada nasabah soal suku bunga penjaminan LPS. "Jika bunga di atas rate, (dana) tidak dijamin jika terjadi masalah dengan bank."
Kepala Ekonom PT BNI Tbk (Persero) Ryan Kiryanto pun menilai persaingan berebut dana murah (giro dan tabungan biasa) dan dana mahal (deposito) tetap ketat hingga akhir tahun. Tujuannya, menjaga likuiditas bank dan untuk memperbesar aset bank. Pertumbuhan dana simpanan biasanya berada di kisaran 18-20 persen.
Mirza menjelaskan, sumber likuiditas di Indonesia terutama berasal dari dana luar negeri yang masuk ke pasar modal. Biasanya beberapa bank pada akhir tahun ingin mempercantik neraca keuangan dengan menunjukkan peningkatan pangsa pasar dana nasabah. Caranya, dengan menaikkan bunga dana simpanan, tapi bunga deposito diturunkan lagi pada awal tahun. Kecenderungan suku bunga deposito naik terjadi pada bank-bank dengan loan to deposit ratio (rasio kredit terhadap simpanan) sudah di atas 90 persen.
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero), Zulkifli Zaini, membenarkan penjelasan Mirza. "Jika perbankan bisa memperluas akses terhadap layanan finansial, persaingan bunga bisa diatasi," kata dia. Pertumbuhan dana simpanan Mandiri masih di kisaran 14-19 persen atau lebih lambat ketimbang pertumbuhan kredit sekitar 23 persen per September 2012. Tapi, "Kami belum melihat ada penurunan drastis," katanya.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destri Damayanti, berpendapat bahwa turunnya simpanan dana nasabah berupa giro karena lesunya aktivitas bisnis pada kuartal III tahun ini. Indikasinya, kredit modal kerja dan investasi juga melambat. Ia memperkirakan potensi persaingan suku bunga deposito terjadi di level bank-bank menengah. "Pasti akan ada perang suku bunga," katanya.
Bank Indonesia mencatat dana simpanan nasabah hingga September 2012 tumbuh sebesar 19,8 persen (year on year) namun melambat dibanding bulan sebelumnya, sebesar 21,3 persen (year on year). Ini terjadi karena perlambatan giro dan deposito di tengah pertumbuhan tabungan yang relatif stabil.
Direktur Utama PT Bank Mega Tbk, J.B. Kendarto, menduga perlambatan dana simpanan didorong defisit ekspor-impor. Dana simpanan bank yang dipimpinnya hanya tumbuh 5 persen dari target 20 persen dan porsi terbesar berasal dari deposito. "Kecil sekali, tidak sesuai dengan rencana," ujarnya.
MARTHA THERTINA | RR ARIYANI
Terpopuler:
LKPP : Peserta Sedikit, Ada Indikasi Rekayasa
2013, Seluruh Daerah Terapkan Pengadaan Elektronik
Bursa Desak Humpuss Rampungkan Pelunasan Utang
Angkasa Pura Tersandung Masalah IMB di Balikpapan
Sistem Elektronik Persempit Peluang Korupsi
Anda sedang membaca artikel tentang
Jaring Nasabah, Bunga Deposito Jor-joran
Dengan url
https://bisnisantaija.blogspot.com/2012/11/jaring-nasabah-bunga-deposito-jor-joran.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Jaring Nasabah, Bunga Deposito Jor-joran
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Jaring Nasabah, Bunga Deposito Jor-joran
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar